Tampilkan postingan dengan label CERITAKU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERITAKU. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 November 2018

Toleransi, Jihad, Perang


ini buku, saya baca ketika sedang memegang tampuk kekuasaan sebagai penyandang gelar pengagguran musim ganjil. Selagi memiliki segudang waktu luang, membaca buku menjadi hal wajib untuk mengisi kekosongan. Saya niatkan saja sebagai ikhtiar saya dalam mentasdid iman. Sebenarnya, ketika membaca judul buku ini, saya menduga bahwa isinya akan seputar sahabat-sahabat muslim (baru) yang sedang berhijrah, namun ternyanya bukan. Isinya justru tentang pandangaan para pakar orientalis terhadap ayat-ayat tertentu dalam alqur'an. Yang saya sukai dari buku ini adalah bahwa penulis tidak hanya memaparkan pandangan pakar secara teoritis saja, namun diurutkan secara periodical dari konsep awal hingga kontemporer. Hal menarik lainnya yaitu penulis memberikan argumen disertai dengan keterangan dalil yang kuat. Tak lupa pula, penulis memberikan pemaparan saran dan tindakan yang perlu dan sebaiknay dilakukan dalam menekan/menghadapi permasalahan terkait dengan peristiwa yang berkaitan dengan ayat pedang dan ayat perdamaian yang terjadi dewasa ini.  

"Toleransi yang memungkinkan manusia hidup berdampingan secara damai bukanlah semata-mata gagasan Barat ataupun pemikiran sarjana muslim modern. Al-Qur'an sendiri senjatinya merupakan kitab toleransi yang menghormati perbedaan dan keragaman. Al-Qur'an dengan eksplisit mendeklarasikan prinsip kebebasan beragama dalam firman Allah: Tidak ada paksaan dalam beragama (Q.S. Al-Baqarah: 256). Perbedaan pendapat dan keragaman merupakan keniscayaan sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah: Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapimereka senantiasa berselisih pendapat (Q.S. Hud: 119)"

Irwan Masduki memaparkan hal diatas dalam bukunya yang berjudul "Ketika Nonmuslim membaca AL-Qur'an" . Buku terbitan tahun 2013 tersebut mengupas pandangan para orientalis dalam mendeskripsikan, memahami, dan menafsirkan ayat-ayat pedang dan ayat-ayat perdamaian yang terdapat dalam Al-Qur'an. Beberapa hal menarik yang dapat saya tangkap adalah bahwa perlu adanya upaya deradikalisasi untuk menegakkan perdamaian di muka bumi. Sebagai umat Islam kita perlu menyelami makna jihad yang sesungguhnya berdasarkan ayat Al-Qu'ran yang ditilik dari sisi historis saat ayat tersebut diturunkan. Sebagaimana kita tahu bahwa ayat-ayat Al-Qur'an turun bertahap sesuai dengan persoalan yang terjadi di masa itu. Al-Qur'an jelas menggariskan bahwa jihad bukanlah perang agresi melaikan perang defensif untuk mempertahankan hak asasi manusia dan membela kebenaran. Dalam sejarah Nabi, berbagai perang yang terjadi merupakan respon defensif untuk melindungi hak memeluk dan memegang teguh keyakinan. 
kita bisa menilik pada sejarah terjadinya perang Badar yang terjadi pada 17 Ramadhan 2 H yang di picu oleh tindakan beberapa sahabat yang mencegat kafilah dagang Quraish dan mengambil barang dagangan mereka. Namun yang harus digarisbawahi adalah  barang dagangan  yang dibawa oleh kafilah Quraish adalah barang-barang milik kaum muhajirin yang telah dirampas oleh kaum Quraish Mekah. sahabat muhajirin hanya ingin mengambil kembali hak mereka. Perang ini merupakan agresi dari kaum Quraish terhadap kaum muslim.
Selain itu, di dalam perang  Uhud, kaum muslim pun hanya bergerak untuk perang defensif. perang ini merupakan ajang balas dendam kaum Quraish atas kekalahannya pada perang Badar. Selain itu perang ini juga dipicu oleh pelanggaran perjanjian damai di madinah yang dilakukan oleh kaum yahudi  atas kaum muslim.



Jumat, 16 Maret 2018

Syair dan Kedisiplinan


"A rose is a rose, no matter where it grows."
 *Roopali, Inspired by Robert Frost's 'The Rose Family'.

 "What you give you get back."
*Scorpions


 "What goes around, comes around."
*Justin Timberlake


. "When you are not practicing, remember somewhere someone is practicing 
and when you meet him, he will win."
*Peter Bergman


Tiba-tiba aku terngiang akan kalimat-kalimat tersebut  yang merupakan potongan dari syair puisi, lagu dan quote dari para tokoh terkenal.  Aku mengetahui hal tersebut bukan karena hobi bacaku yang luas atau mendalam, tapi karena seorang dosen yang  memberikan. Tentu saja bukan hanya untukku tapi untuk semua siswa yang dibimbingnya. Beruntungnya aku waktu itu karena mendapat kesempatan untuk dibimbing oleh seorang dosen yang menginspirasi. Aku menamai potongan kalimat itu sebagai pesan karena di setiap untaian kata tersirat makna yang teramat dalam.
Menurutku, dosenku yang satu ini sungguh menginspirasi. Beliau tidak hanya mengajarkan kami cara berpikir kritis, namun juga cara bersyukur terhadap kesempatan yang telah di berikan. Oleh karena itu, kedisiplinan menjadi nomer satu.

Berbicara tantang kedisiplinan, Aku berpandangan bahwa kedisiplinan adalah salah satu bentuk komitmen konkret manusia untuk bersyukur pada Tuhannya. Ketika seseorang mendapatkan nikmat dari Tuhan nya, maka ia harus mensyukurinya. Bersyukur bukan hanya dengan mengucap 'Alhamdulillah', meski hal tersebut juga baik. Namun alangkah lebih baiknya jika diwujudkan dalam bentuk tindakan yang lain seperti mendisiplinkan waktu sholat (sholat di awal waktu). bukankah itu lebih membahagiakan Allah, meskipun sebenarnya Allah tidak akan merugi jika hamba-Nya tidak melakukan hal tersebut. Lebih dari pada itu, menjaga konsistensi kedisiplinan dalam bersyukur (istiqomah) itu teramat sulit, karenanya kita perlu memupuknya agar tumbuh dengan baik dan mengakar dengan kuat. Paling tidak semisal kita tidak bisa se-istiqomah Ali bin Abi Thalib, kita bisa berhijrah dan beristiqomah sebagaimana Umar bin Khattab lakukan.


                                                                                                                       Surakarta, 17 Maret 2018
                                                                                                             
                                                                                                                             Annisa

                                                                                                       

Kamis, 28 Desember 2017

Membaca Kolom




Menepi dari pusaran thesis, saya sejenak menyisihkan waktu untuk membaca buku di luar topik akademis. Hal ini saya lakukan untuk charging energi, mengibur jiwa, dan merefleksikan kejadian-kejadian yang telah saya lalui. 

Buku bagi saya bukan hanya sekedar kumpulan pengetahuan ataupun runtutan informasi, tapi lebih kepada teman. Teman tidak selalu berwujud manusia, ia dapat berarti apa saja yang membuat saya tidak merasa sendiri. Hal ini tentu di luar konteks ke-Tuhan-an. Karena sudah barang tentu kalau sejatinnya kita tak pernah sendiri. Kita selalu bersama Dzat yang maha hidup, Allah SWT.


Menepi sejenak dari thesis
Kebanyakan buku yang saya baca bergenre cerita (novel, cerpen, ataupun kisah-kisah) namun kadangkala saya juga membaca buku yang berisi kolom-kolom yang membahas tentang fenomena-fenomena yang terjadi dewasa ini.  Setiap kolom berisi tema yang berbeda-beda bahkan terkadang tema-tema tersebut saling tidak nyambung.  Sebenarnya tidak semua tema dapat saya pahami maksud/atau pesannya, tapi terkadang saya berusaha untuk menyelami gaya penulisan yang di alirkan penulis dalam menyampaikan gagasannya, barangkali berangkat dari hal tersebut, pada akhirnya saya dapat memahami apa yang tersirat didalamanya. 

Pesan yang disampaikan penulis memang tidak selalu lugas. Penulis sering kali memakai bahasa retorik yang mbulet, bahasa yang penuh intrik. Inilah yang membuat saya acapkali kesulitan memahami maknanya,  saya butuh waktu untuk membacanya berulang-ulang 2-3 kali. Ini pula yang menyentil pikiran saya bahwa membaca bukan lah hal mudah. Padahal membaca sudah saya pelajari sejak taman kanak-kanak, dan tetap saya pelajari dan lakukan hingga kini. 

Menurut saya penggunaan bahasa retorik itu dimaksudkan untuk memberikan sense yang lebih mendalam terhadap pesan yang disampaikan. Hal itu dapat menggugah pikiran dan hati pembaca akan adanya fenomena tersebut. Bukan hal yang tidak mungkin, kalau penulis sebenarnya ingin menanamkan gagasannya pada si pembaca. Entah gagasan itu akhirnya tertanam dengan baik atau tidak.  

Hal tersebut juga dapat mengindikasikan bahwa  antara penulis dan pembaca biasanya memiliki ritme pikiran yang relatif sama, meski kita tidak bisa mengeneralisasikan hal tersebut. Mengapa saya beranggapan seperti itu, karena pembaca biasanya cenderung memilih bacaan yang sesuai dengan kebribadiannya dan/atau kepercayaannya. Dari hal tersebut kita dapat mengambil garis lurus “kepribadian/ kepercayaan sesorang dapat di lihat dari buku yang ia baca”.  Namun sekali lagi, jangan menggeneralisasikan hal tersebut pada semua pembaca. Lalu muncullah pertanyaan, “Bagaimana dengan orang yang tidak suka membaca? Apakah itu berarti kita tidak bisa melihat kepribadian/kepercayaannya?”  Terkhusus untuk hal tersebut, saya perlu membaca lebih banyak lagi.


                                                                                         Annisa
                                                                                         Surakarta, 28 Desember 2017

Rabu, 27 September 2017

Sangkaan yang Salah dan Rencana Tuhan yang Indah

Tak pernah ku sangka bahwa apa yang Tuhan rencanakan itu selalu membuatku takjub.  Memang benar adanya firman Tuhan itu "...boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 216). Diri ini baru benar-benar sadar ketika hal tersebut terjadi pandaku. Hal ini bermula ketika diriku menyusun tugas akhir. Awal perjalanan, aku sudah sangat yakin bahwa topik penelitian ini akan mudah untuk diteliti. Mulanya, aku mengumpulkan banyak sumber- sumber ilmiah yang kiranya dapat mendukung topikku. Setelah dirasa cukup banyak membaca, aku mulai menduga ada ketidakcocokan antara satu tema dengan tema yang lain. Tidak lekas menyerah, aku terus saja mengumpulkan sumber-sumber lain yang dapat mementahkah dugaanku. Tapi apalah daya, memang tema ini tidaklah pas pada subjek penelitianku. aku yang memaksakan adanya kecocokan itu. 

Sejak itulah aku mulai berganti topik penelitian. Hari- hari terus saja ku lewati dengan acanya yang monoton yaitu bertatap pandang dengan si muka lebar alias laptop. Terus saja kupandangi dia hingga mata ku sendiri yang lelah. Duduk di sudut sebuah ruangan kampus yang ramai tak membuatku bergeming. Kuabaikan semua yang ada dengan hanya berfokus pada satu titik cahaya. Cahaya yang keluar dari benda kotak tak benyawa. bisa dikatakan bahwa akhir-akhir ini banyak waktu kuhabiskan untuk bercengkrama dengannya. Kuanggap saja dia sebagai teman perjalanan dan penjuangan sehingga rasa bosan tak akan hinggap dengan mudahnya. Kurang lebih dua minggu waktu ku habiskan untuk mengumpulkan reference. Selama waktu itu, terhitung tiga kali aku berganti topik penelitian. Bisa dikatakan aq ini peneliti labil (semoga bukan peneliti gadungan). Setelah dirasa cukup, mulailah aku memberanikan diri untuk menemui sang counselor. Ku temuinya di hari kamis 7 sep 2*** di sore hari sekirar pukul 16.30.  Sekitar 15 menit berlalu, pulanglah aku dengan gontai. Sedih dan senang bercampur bak adonan yang telah siap diuleni. Bibirku menyunggingkan senyum, namun air muka ku berkata lain.

Sesampainya di penginapan, ku runtut lagi kejadian 15 menit yang berharga itu, semua adegan berkelebatan dalam pikiran. Tak terima dengan kenyataan, aku mulai membandingakan nasib diriku dengan nasib temanku. muncullah ungkapan "mengapa dia selalu dimudahkan, tapi tidak dengan aku". Aku merasa sepertinya tuhan tidak berpihak padaku. Diriku memang tak pandai bersyukur. Seharusnya ku syukuri apa yang telah terjadi pada menit itu, bahwa ada hal baik yang aku dapatkan, meskipun ada hal lain yang menggoyahkan pikiranku. Yah, aku diminta untuk menganti redaksi dari topik penelitian yang otomatis membuatku  mengganti pula beberapa reference yang telah dua minggu ku kumpulkan. Mungkin dua minggu adalah waktu yang cukup singkat. Tapi bagi pada pemburu sepertiku, waktu dua minggu adalah waktu yang sangat berharga. waktu yang seharusnya sudah ku gunakan untuk rencana-rencana lain. Tapi apalah daya, takdir berkata bahwa aku harus banyak belajar lagi. Kali ini nasib baik memang tidak berada di pihak ku. Hal lain yang membuatku agak gusar adalah, aku harus segera menemukan subjek penelitian dan membangun komunikasi yang baik dengan collaborator. Sebenarnya ini mudah saja. Aku tinggal pergi  ke sekolah dan meminta izin untuk melakukan penelitian. Tapi bagi seorang introvert, itu hal yang sangat menyulitkan, mengingat aku bukanlah seorang komunikator yang baik. Aku lebih suka menggunakan bahasa tulis daripada bahasa lisan. Aku tak pandai merangkai kata. Lidahku kelu ketika dituntun untuk bicara.

Tak ingin membuang waktu dan hanya terus berandai-andai, langsung saja ku sentuh layar, mencari informasi-informasi tentang sekolah yang kiranya welcome untuk dilakukan penelitian. Setelah seharian berkontak dengan teman-teman, aku tak mendapatkan juga sekolah yang dituju. Hingga malam hari pun aku juga belum mendapat balasan dari orang yang menjadi harapanku. Bahkan aku telah berburuk sangka padanya. Aku beranggapan bahwa ia tak mau membalas pesan ku. Maklumlah,,, aku telah mengontaknya lebih dari dua kali dengan aplikasi yang berbeda. Kepalaku ini rasanya penuh dengan dugaan. Tak kusangka, di waktu fajar, berderinglah ponselku. Ku baca dengan gugup dan sambil tersenyum. Sebuah pesan dari orang itu. orang yang ku tunggu. Yah, meskipun jawabannya tak sesuai dengan harapan, tapi setidaknya aku sudah punya sedikit pencerahan. 

Pagi itu aku memutuskan untuk mengurus segala hal surat menyurat. mulai dari ngedit, ngeprint, hingga meminta tanda tangan dosen. Semua kulakukan dengan begitu semangat. Kebetulan hari itu adalah hari Sabtu yang artinya kantor tutup, maka ku putuskan untuk meminta stempel di hari Senin. Tepat di hari Senin pagi pukul 08.00 aku meluncur ke kampus untuk menyelesaikan keperluanku. Tak butuh waktu lama, urusan surat-menyurat pun selesai. Aku langsung tancap gas ke sekolah yang dituju. Alhamdulillah tak seperti bayanganku, semua berjalan baik. Bertemu kepala sekolah yang baik dan langsung direkomendasikan ke guru yang bersangkutan. Aku pun bertemu dengan sang guru dan kemudian aku memperkenalkan diri sambil berbincang tentang keperluanku. Akhirnya aku pamit, setelah sebelumnya kami sepakat untuk melakukan interview di hari yang belum di tentukan.

Hari itupun akhirnya datang juga. Hari dimana kami sepakat untuk wawancara, hari yang telah aku dan ibu guru sepakati. Ya guru itu seorang perempuan. Kami pun berbincang singkat. Singkat mengingat waktu yang terbatas yang dimiliki oleh ibu guru. Beliau malah merekomendasikan guru lain untuk diajak kolaborasi. Hal itu dikarenakan, keadaan siswa yang kurang memungkinkan untuk dijadikan subjek penelitian. "Baiklah saya terima ujian ini" (kata ku dalam hati). Aku pun pulang dengan setengah rasa namun kali ini tetap optimis.

Minggu berikutnya, aku temui counselor ku, berharap ada lampu hijau untuk naik ke tahap selanjutnya. Mau di kata apa, harapanku lagi-lagi manggantung. Naik tidak turun pun tidak. Aku diminta untuk menemui guru rekomendasi itu. Karena menurut beliau, itu penting untuk beberlangsungan status penelitianku. Beliau tak ingin ketika  di tengah jalan aku menemui masalah dengan subjek penelitian. Terus saja wejanan itu terngiang ditelinga ku. Tapi akulah manusia, selalu selalu tak sabar dan ingin yang instan. Aku pikir, aku akan segera masuk ke tahap penulisan, tapi nyatanya aku masih di tangga yang sama. "Apa susahnya bilang ACC", gumamku. Aku terus saja memikirkannya, susah sekali untuk naik ke satu tangga. Padahal aku sudah menyiapkan latar belakang yang sudah semalaman kususun rapi. Aku pun sudah menyiapkan lompatan maut jika aku sudah naik di tangga itu. Mungkin karena tingkat PD yang berlebihan, maka Tuhan pun mengingatkan ku untuk merinduk. Ya aku benar-benar merunduk karena sedih. Lagi dan lagi aku harus bersabar, mendesain ulang pertemuan, meramu kata-kata untuk saling membuka obrolan ke guru rekomendasi itu. sekali lagi ini memang bukanlah masalah yang besar. Tapi kujelaskan sekali lagi, bahwa ini bukan hal yang mudah bagi seorang penyendiri.  Rencana yang sudah aku susun sedemikian rupa, harus balikkan lagi mengikuti pada sekenario Tuhan. 

Hari Rabu, hari dimana aku akan bertemu guru itu, guru yang hanya kukenal namanya. Guru yang selanjutnya akan menjadi partner yang kuharap menyenangkan.  Setelah berkontak beberapa kali, kami memutuskan untuk berbincang pada hari Rabu.  Hari itu aku ingat sekali dangan senyum ramah dari guru itu. dia juga seorang perempuan. Perempuan yang masih muda dan juga good looking. kesan itu cukup membuatku ber positive thinking. "Mungkin ini guru yang dipilihkan Tuhan  untuk jadi partnerku", batinku. Lama kami berbincang sekitar dua jam, aku menemukan kecocokan. "Seru juga ngobrol sama bu ini", lirihku. Sambil ku gali tentang karakternya, ternyata benar alhamdulillah ada kesamaan tipe pada diri kami. Aku pikir kali ini akan berjodoh. Ya tentunya berjodoh dalam hal penelitian. lebih dari itu, aku menemukan keberpedulian dari seorang guru tentang moral-etika dari para siswanya. Perbincangan kami memang bukan hanya sekedar penggalian data penelitian. Tapi lebih dari itu, kami berbincang sampai kepada dampak teknologi bagi moral anak-anak. Kami pun berbincang tentang hal-hal yang berkaitan akhlaq dan sarana untuk manjaga dan memupuknya. sampai beliaupun cerita siapa yang sedang jadi gurunya. Beliau menyebutkan seorang ustadz muda lulusan Kairo yang menurutnya alim dan mengena. Tak ingin kehilangan moment, aku pun mencatat nama itu dalam note ku. Hanan Attaki, itulah nama ustadz tersebut. Perbincangan kami pun selesai dan berujung pada kesepakatan bahwa kami akan bertemu lagi di minggu depan pada hari Selasa untuk observasi kelas. 

Sepulang dari pertemuan tersebut, entah kenapa rasanya ingin saja aku langung mencari video tausiyah ust tersebut di Youtube. tanpa berapa lama, aku pun menemukan banyak video sejenis itu. Langsung saja ku sentuh layar ponsel butut ku untuk kemudian kudengarkan cerita hikmah yang disampaikannya. Tak kusangka, hatiku meleleh juga dengan cerita tersebut. kurasa hati ini basah lagi, setelah sebelumnya terasa kering. Ada saja hal-hal yang mengeda di hati sejak aku mendengan cerita-cerita hikmah itu. Aku telah menemukanmu. Menemukan hal untuk melepas dahaga hati. Jujur, semenjak hidup di perantauan selama 1 tahun belakangan, aku merasa tak banyak hujan yang membasahi hati. Rasanya sulit tersentuh. Rasanya seperti tanah tak mendapat air dan pupuk. Tapi kali ini berbeda. aku merasa bak menemukan hal yang bisa menjadi booster. Ku pikir sejenah, "inikah lika-liku yang Tuhan rencanakan untukku". Inikah yang Tuhan inginkan dariku, agar aku lebih banyak mengingat-Nya, agar aku lebih banyak menyebut-Nya, agar aku lebih dekat dengan-Nya. Dari situ baru aku mengerti, bahwa aku membutuhkan itu dan Tuhan menunjukannya lewat jalan ini.  Semenjak itu, aku selalu berlangganan mendengarkan tausiah si ustadz tukang main. Seperti kata sang ustadz "anak main bukan anak gaul".

Epilog. 
Mungkin cerita ini cerita biasa yang banyak terjadi pada diri manusia. Tapi hal yang membuatku merasa penting adalah hal ihwal "Iman". Percayalah, yakinlah, berimanlah pada Allah, niscaya Ia akan mempermudah urusanmu. Mendekatlah, niscaya Allah akan mendekatimu lebih dari yang kau lakukan. Karena ketika Allah sudah mendekat, maka apapun yang kau minta akan Ia kabulkan. Namun ingatlah, jika beriman maka berimanlah dengan hati dan jika mendekat maka mendekatlah dengan hati.

                                                                                                           Surakarta, 27 September 2017


Selasa, 21 Maret 2017

Si Gadis Asing (Bersama Rindu dan Mimpi)




Ini bukanlah tentang cerita sedih. Ini hanyalah ungkapan seorang anak petani desa kurang berkembang. Ya, desa kami memang seperti desa yang kurang berkembang. Masyarakatnya mayoritas buruh tani dan pedangan dadakan dan tak tentu pendapatannya. Banyak dari cerita yang ku dengar dari penduduk desa tetangga bahwa desa kami tidaklah cukup pesat dalam perkembangannya.

Meskipun ada stempel tersebut, tapi entah mengapa separuh hati ini tertinggal di desa itu. sebenarnya perasaan jenis apa yang hinggap. Apakah perasaan rindu? Lalu, rindu yang seperti apa? Rindu yang bagaimana?  

Rindukah aku dengan cuaca panas yang menyengatnya kulit ku? Rindukah aku dengan debu yang menutupi jalan kala tak ada hujan yang mengguyur, hingga sesak nafas ini tatkala melewati jalanan berdebu itu?  Rindukah aku dengan suara sahutan anak-anak mengaji? Rindukah aku dengan pemandangan lalu lalang manusia yang menyesaki pasar? Rindukah aku dengan jajanan pasarnya yang murah itu? Ataukah ada rindu lain yang sedang menapaki hatiku?

Namun, setelah ku ingat, aku tak memiliki memori indah tentang desa itu kecuali pertemuanku dengan kekasihku. Mungkinkan aku rindu orang itu? Orang yang membuatku berfikir dua kali ketika hendak menyerah. Orang yang rela menunda impiannya demi terwujudnya mimpi ku. Orang yang setia dan sabar menunggu kabarku. Orang yang selalu menyisipkan namaku dalam setiap doanya.

Di sebut pertemuan karena sebenarnya aku memanglah jarang bersua dan tidak tinggal satu atap dengannya. Jarak, kesempatan, dan takdirlah yang menghalangi kami bersua dalam kurun waktu tertentu. Hingga saat waktu itu tiba, aku tetap tak mampu untuk memilih hidup bersamanya. Bahkan andaikan aku di berikan kesempatan untuk memilih, aku pun tetap tak akan mampu untuk memilih.. Hingga aku sadari ternyata ini memang pilihan Tuhan. Dan aku percaya, pilihan-Nya tak pernah salah.

Meskipun tak memiliki waktu yang cukup untuk saling bercerita, tapi aku merasa ada talian yang membuatku selalu ingin merindunya. Sepertinya ini termasuk jenis talian batin yang tak terucapkan. Tak teucapkan, karena aku memang tipe manusia yang hemat bicara. Aku lebih senang menggunakan indera pendengaranku ketimbang memproduksi ujaran. Orang-orang menganggapku si gadis pendiam.

Selain dianggap pendiam, aku juga dianggap gadis asing. Tak ada orang yang mengenaliku dengan baik. Setiap kali aku berjalan beriringan dengan kekasihku, aku selalu saja menjadi bahan pertanyaan orang-orang. “siapakan gerangan? Mengapa aku tak pernah melihat sebelumnya?” aku tak pernah berkomentar dengan pertanyaan itu, hanya seulas senyum yang mengembang dari bibirku dan ku anggap itu sebagai jawabanku. Aku hanya berbisik dalam hati, “begitu asingkah diriku? Bukankah aku telah sering ke desa ini meski hanya dalam singkat waktu?”

Nostalgia akan desa itu yang membuatku bersemangat untuk belajar. Belajar agar aku dapat menjadi orang yang bermanfaat. Hingga ada sesuatu yang dapat ku berikan untuk desa itu, meskipun aku masih saja dianggap asing. Atau, paling tidak, apa yang kiranya dapat kuberikan untuk kekasihku.

Aku ingin memberikan apa yang mampu ku berikan. Aku ingin memberikan sesuatu yang membuat kekasihku mengembangkan senyumnya. Ya, aku benar-benar ingin melihat senyum merekah darii bibirnya. Aku sungguh rindu senyuman itu.

Sesuatu itu, kini sedang ku usahakan, ku giatkan, ku lakukan, dan tentunya ku doakan. sesuatu itu adalah sebuah mimpi yang sedang ku bangun. Bahkan mungkin ini baru mencapai tahap awal darii pembangunannya. Namun aku tak peduli akan jadi seperti apa mimpiku itu. Yang ku pedulikan adalah seberapa kuat usaha dan doaku untuk mimpiku itu.
Aku sering berujar, “Mimpi- mimpi hadirlah dalam nyata ku. Jika kau tak ingin hadir karena buruknya diriku, hadirlah untuk kekasihku.”




.

Minggu, 19 Maret 2017

Menggali Pengetahuan



Menggali pengetahuan dari orang—orang hebat itu sangatlah indah. Apalagi jika menilik kebelakang tentang perjuangannya mengarungi waktu. Rasanya penderitaan ku ini tak ada ¼ nya jika dibandingkan dengan mereka. Mereka sungguh orang-orang yang menginspirasi.

Yah. Bertemu orang baru di lingkungan baru tidak hanya meyenangkan namun juga melelahkan. Menyenangkan jika kita dapat seperti mereka saat ini, memelahkan jika harus melewati banyak hal seperti mereka saat itu. Dan sekarang saya benar-benar sadar bahwa ilmu padi itu benar adanya. ‘semakin berisi semakin merunduk’. Dan itulah yang saya temui ketika berhadapan dengan para pahlawan negara *dosen.

Mengapa saya katakan pahlawan negara? Karena menurut pandangan saya, ditangan merekalah karakter bangsa dikuatkan. Mereka tidak hanya mengajarkan kompetensi saja,  juga karakter yang harus di bangun dan dimiliki oleh seorang  pendidik. ‘Guru bertugas untuk membantu siswa belajar: belajar merubah attitude, belajar berfikir aktif dan kritis, belajar memanusiakan manusia, belajar mengonstrukikan sesuatu, dan balajar banyak hal lainnya.’

Dari hal tersebutlah, tersimpan hikmah yang dapat saya selami bahwa sejatinya manusia itu selalu berproses. Beproses dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang belum mengamalkan menjadi mengamalkan. Selanjutnya, tahap yang penting dalam pengamalan sesuatu adalah mengetahui hakikat ilmunya dulu, supaya apa yang kita amalkan itu memiliki makna mendalam pada diri kita, tidak hanya sekedar taklid buta atau ikut-ikutan saja.

Kembali ke topik tentang pertemuan, bahwa apa yang saya alami saat ini benar-benar membuka jendela mata saya, jendela yang  selama ini hanya terbuka sebagian. Mereka mengingatkan saya kembali akan pentingnya bersyukur, berani, berdoa, dan beramal. Bersyukur terhadap apa yang telah Tuhan titipkan pada kita, berani memulai sesuatu dari yang kita mampu, dan berdoa untuk harapan –harapan kita, dan beramal dari apa yang kita dapatkan.

“Hidup bukan melulu eksistensi tapi aktualisasi diri”
                                               

                                                           

Senin, 29 Agustus 2016

YANG TAK PERNAH MENYESAL



Aku tak pernah menyesal dilahirkan di tengah keluarga ini,
Aku yang tak pernah lama merasakan dekapan hangat, belaian lembut, dan desiran halus suaranya. Aku yang tak pernah bisa puas menatap wajahnya, merasakan kebahagiaan dan kesedihan bersamanya. 
Aku yang lebih sering mendengarkan ceritanya (telfon) tentang adik-adikku tanpa aku bercerita balik tentang diriku
Aku yang selalu jauh dan tak mampu membantu ketika ia sakit.
Namun justru darinya lah aku belajar bagaimana cara menjadi seorang ibu yang perhatian meski tak pernah bersentuhan, Aku pun belajar dari caranya mendidiku dengan nasihat panjangnya saat kami bertukar suara via handphone. Tak pernah ia lupa mengingatkan ku bahkan untuk hal yang menurut ku sangat sepele. Ia juga tak pernah lupa mengingatkan ku untuk terus berdoa, bersyukur, dan berbagi, hingga sempat ku merasa bosan mendengarnya.
Terimakasih ibu, dan tetaplah untuk terus setia mengajariku memaknai  arti kehidupan.

Aku yang tak pernah menyesal di lahirkan di tengah keluarga ini.
Aku yang tak pernah bisa puas mendengarkan tembangan unik yang kau ciptakan untuk ku.
Aku yang tak pernah mendapakkan banyak pukulan sayang dari tangan mu yang kekar.
Aku yang  kadang menerima sms (nasihat) yang kadang membuatku merasa lucu karna bahasa mu yang baku.
Aku yang selalu jauh dan tak mampu membantu ketika ia kelelahan.
Namun justru darinya lah aku belajar menjadi orang tua yang baik. Meskipun ia tak seperti ibuku yang banyak memproduksi kalimat yang panjang, tapi aku yakin ia tak pernah lupa menyertakan namaku di setiap doa panjangnya. Aku pun belajar dari caranya mendidikku, Ia tak pernah ajarkanku untuk malu dan takut melakukan hal yang benar. Ia ajarkanku untuk melihat orang bukan dari apa yang dikenakan melainkan dari apa yang diperbuat. ia ajarkan ku untuk menjadi apa adanya diriku tanpa di buat-buat dan tanpa di ada-adakan.
terimakasih pak, dan tetaplah untuk terus setia mendidikku memaknai arti kehidupan.


Terimakasih lagi ku sampaikan untuk kedua orang tua ku yang rela menguras tabungannya demi menyekolahkan aku, yang rela impiannya di tunda demi mewujudkan mimpiku dan adik- adikku, yang rela menghabiskan malam panjangnya untuk mendoakan aku dan adik- adikku..
maka tunggulah dulu sampai kami dapat mewujudkan mimpimu yang tertunda..
Kami pun akan terus mendoakan untuk kebaikanmu...

Ya Allah.. berikanlah umur yang panjang untuk kedua orang tuaku.
sukseskanlah aku dan adik-adikku semuda mungkin agar orang tua ku dapat merasakkan mimpi yang kami perjuangkan untuk meraka.... Aamiin..

Masuk angin

Angin tiba tiba menyelinap ke dalam pori memasuki ruang-ruang kosong, menyesaki paru hingga sesak untuk dihembuskan. Menerawang jauh de...