Minggu, 21 Oktober 2018

Tsunami

TSUNAMI 

Jika air mata dan mata air memiliki kesamaan
Maka yang sama hanyalah sifat mereka yang cair dan rupanya yang bening

Air mata adalah manifestasi emosi jiwa
Senang, sedih, bangga, kecewa, terharu, takut 
tersirat dalam butiran yang asin

Sementara air mata belum tentu murni
Semurni emas 24 karat hasil tambang Freeport mengeruk tanah rakyat
Sementara air mata juga belum tentu asli
Seasli berlian yang terpatri dicincin para pejabat
Ia bisa saja sebuah produk imitasi dari pribadi yang berlakon layaknya aktris dan aktor FTV

Entah murni, asli atau imitasi
Air mata tetap saja berkilau bagai kristal
Ia tak mengenal dari seorang apa ia dilahirkan
Ia hanya mengenal 1 arah tujuan
Ke bawah menyusuri pipi mengikuti gravitasi

Dikala waktu ia seperti rerintik air 
Ringan turun berkejaran bagai gerimis

Di keadaan tertentu ia laksana tsunami yang menerjang tepian pantai
Deras, keras, tanpa memelas
Menghanyutkan imajinasi
Menghancurkan mimpi-mimpi
Memporak-porandakan citra diri
Melenyapkan eksistensi
Menyisakan bangkai yang menyesakkan hati
                                                                                               Metro, 21 Oktober 2018

Jumat, 07 September 2018

Kelud




Pemandangan Ujung lereng Kelud
Wisata alam memang selalu menawarkan keindahannya tersendiri. Kita spesifikan saja pada wisata pegunungan. Sebagai salah satu negara dengan deretan pengunungan yang panjang dari ujung barat ke ujung timur, Indonesia tidak hanya menyajikan pemandangan gunung yang indah namun juga wisata yang ramah bagi para pendaki profesional maupun amatiran. Bagi saya yang bukan pendaki profesional, mendaki gunung bukanlah perkara mudah, selain tidak memiliki peralatan pendakian yang memadai, hal terkait kesiapan fisik dan mental pun menjadi kendala bagi saya, maklum lah, saya ini anak pantai, biasa main di pasiran (samping rumah,,,). Jadi berbekal keterbatasan, saya memutuskan untuk berwisata di Kelud. Mengapa memilih Kelud? ya karena kebetulan saya sedang singgah di rumah teman yang berlokasi di Kediri. Selain itu, Kelud dapat diakses dengan mudah baik menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. 

Akses jalan menuju ujung lereng Kelud
Kalau dari kota kediri, kelud dapat ditempuh sekitar satu jam perjalanan menggunakan kendaaan roda dua. Jalanan ber-aspal menutupi tanah hingga ke lereng gunung, namun setelah itu jalanan berpasir dan berkerikil harus ditempuh jika ingin sampai ke puncak gunung. Biasa masuk ke wisata gunung kelud cukup murah. Kita hanya perlu membayar Rp. 10000/org. Bagi anda yang membawa kendaraan roda 2, kalian dapat memarkirkan kendaraan anda di tempat parkir terakhir, tempat parkir ini berjarak paling dekat dengan puncak gunung. Sedangkan yang berkendara roda 4, kalian harus memarkir cukup jauh dari puncak gunung. Dari tempar parkir terakhir, kalian hanya perlu berjalan kaki sekirar 15-20 menit untuk mencapai ujung lereng kelud. oia, saya hanya berjalan hingga ujung lereng, karena, akses jalan ke puncak kawah sedang ditutup. Meski begitu, pemandangan lereng Kelud tetap memikat hati. Terkhusus untuk kalian yang tidak membawa kamera, di tempat parkir terakhir, terdapar banyak petugas yang menawarkan jasa foto. Kalian cukup membayar jasa cetaknya saja sekitar  Rp.10000-20000/lbr tergantung ukuran foto. Foto dapat dapat langsung dicetak hari itu juga, kalian hanya perlu menunggu dalam hitungan menit. 


 Pemandangan Lembah Kelud
Untuk yang memiliki hobi photography, kelud menawarkan begitu banyak spot foto yang menarik, diantarnya spot perbukitan yang berjejer, spot lembah, spot pemukiman penduduk, spot kawah gunung, dan masih banyak lagi spot menari lainnya. Tentunya kalian harus pandai dalam mengambil angle agar hasil fotonya menarik. 



Namun, jangan khawatir, bagi kalian yang belum cukup puas dengan pemandangan indah di lereng Kelud, Di sekitar wisata gunung Kelud pun terdapat tempat wisata lain yang ditawarkan seperti rumah Belanda, kampung Durian, Kampung Anggrek, wisata Petik Nanas, dll.



 


Jumat, 16 Maret 2018

Syair dan Kedisiplinan


"A rose is a rose, no matter where it grows."
 *Roopali, Inspired by Robert Frost's 'The Rose Family'.

 "What you give you get back."
*Scorpions


 "What goes around, comes around."
*Justin Timberlake


. "When you are not practicing, remember somewhere someone is practicing 
and when you meet him, he will win."
*Peter Bergman


Tiba-tiba aku terngiang akan kalimat-kalimat tersebut  yang merupakan potongan dari syair puisi, lagu dan quote dari para tokoh terkenal.  Aku mengetahui hal tersebut bukan karena hobi bacaku yang luas atau mendalam, tapi karena seorang dosen yang  memberikan. Tentu saja bukan hanya untukku tapi untuk semua siswa yang dibimbingnya. Beruntungnya aku waktu itu karena mendapat kesempatan untuk dibimbing oleh seorang dosen yang menginspirasi. Aku menamai potongan kalimat itu sebagai pesan karena di setiap untaian kata tersirat makna yang teramat dalam.
Menurutku, dosenku yang satu ini sungguh menginspirasi. Beliau tidak hanya mengajarkan kami cara berpikir kritis, namun juga cara bersyukur terhadap kesempatan yang telah di berikan. Oleh karena itu, kedisiplinan menjadi nomer satu.

Berbicara tantang kedisiplinan, Aku berpandangan bahwa kedisiplinan adalah salah satu bentuk komitmen konkret manusia untuk bersyukur pada Tuhannya. Ketika seseorang mendapatkan nikmat dari Tuhan nya, maka ia harus mensyukurinya. Bersyukur bukan hanya dengan mengucap 'Alhamdulillah', meski hal tersebut juga baik. Namun alangkah lebih baiknya jika diwujudkan dalam bentuk tindakan yang lain seperti mendisiplinkan waktu sholat (sholat di awal waktu). bukankah itu lebih membahagiakan Allah, meskipun sebenarnya Allah tidak akan merugi jika hamba-Nya tidak melakukan hal tersebut. Lebih dari pada itu, menjaga konsistensi kedisiplinan dalam bersyukur (istiqomah) itu teramat sulit, karenanya kita perlu memupuknya agar tumbuh dengan baik dan mengakar dengan kuat. Paling tidak semisal kita tidak bisa se-istiqomah Ali bin Abi Thalib, kita bisa berhijrah dan beristiqomah sebagaimana Umar bin Khattab lakukan.


                                                                                                                       Surakarta, 17 Maret 2018
                                                                                                             
                                                                                                                             Annisa

                                                                                                       

Kamis, 28 Desember 2017

Membaca Kolom




Menepi dari pusaran thesis, saya sejenak menyisihkan waktu untuk membaca buku di luar topik akademis. Hal ini saya lakukan untuk charging energi, mengibur jiwa, dan merefleksikan kejadian-kejadian yang telah saya lalui. 

Buku bagi saya bukan hanya sekedar kumpulan pengetahuan ataupun runtutan informasi, tapi lebih kepada teman. Teman tidak selalu berwujud manusia, ia dapat berarti apa saja yang membuat saya tidak merasa sendiri. Hal ini tentu di luar konteks ke-Tuhan-an. Karena sudah barang tentu kalau sejatinnya kita tak pernah sendiri. Kita selalu bersama Dzat yang maha hidup, Allah SWT.


Menepi sejenak dari thesis
Kebanyakan buku yang saya baca bergenre cerita (novel, cerpen, ataupun kisah-kisah) namun kadangkala saya juga membaca buku yang berisi kolom-kolom yang membahas tentang fenomena-fenomena yang terjadi dewasa ini.  Setiap kolom berisi tema yang berbeda-beda bahkan terkadang tema-tema tersebut saling tidak nyambung.  Sebenarnya tidak semua tema dapat saya pahami maksud/atau pesannya, tapi terkadang saya berusaha untuk menyelami gaya penulisan yang di alirkan penulis dalam menyampaikan gagasannya, barangkali berangkat dari hal tersebut, pada akhirnya saya dapat memahami apa yang tersirat didalamanya. 

Pesan yang disampaikan penulis memang tidak selalu lugas. Penulis sering kali memakai bahasa retorik yang mbulet, bahasa yang penuh intrik. Inilah yang membuat saya acapkali kesulitan memahami maknanya,  saya butuh waktu untuk membacanya berulang-ulang 2-3 kali. Ini pula yang menyentil pikiran saya bahwa membaca bukan lah hal mudah. Padahal membaca sudah saya pelajari sejak taman kanak-kanak, dan tetap saya pelajari dan lakukan hingga kini. 

Menurut saya penggunaan bahasa retorik itu dimaksudkan untuk memberikan sense yang lebih mendalam terhadap pesan yang disampaikan. Hal itu dapat menggugah pikiran dan hati pembaca akan adanya fenomena tersebut. Bukan hal yang tidak mungkin, kalau penulis sebenarnya ingin menanamkan gagasannya pada si pembaca. Entah gagasan itu akhirnya tertanam dengan baik atau tidak.  

Hal tersebut juga dapat mengindikasikan bahwa  antara penulis dan pembaca biasanya memiliki ritme pikiran yang relatif sama, meski kita tidak bisa mengeneralisasikan hal tersebut. Mengapa saya beranggapan seperti itu, karena pembaca biasanya cenderung memilih bacaan yang sesuai dengan kebribadiannya dan/atau kepercayaannya. Dari hal tersebut kita dapat mengambil garis lurus “kepribadian/ kepercayaan sesorang dapat di lihat dari buku yang ia baca”.  Namun sekali lagi, jangan menggeneralisasikan hal tersebut pada semua pembaca. Lalu muncullah pertanyaan, “Bagaimana dengan orang yang tidak suka membaca? Apakah itu berarti kita tidak bisa melihat kepribadian/kepercayaannya?”  Terkhusus untuk hal tersebut, saya perlu membaca lebih banyak lagi.


                                                                                         Annisa
                                                                                         Surakarta, 28 Desember 2017

Minggu, 10 Desember 2017

TOEFL PREPARATION PART 4


COMPARATIVE AND SUPERLATIVE 
QUESTION AND EXPLANATION


STRUCTURE AND WRITTEN EXPRESSION
Direction: Choose the letter of the word or group of words that best completes the sentence.
1.      The speed of the light is ________ the speed of sound.
A.    faster
B.     much faster than
C.     the fastest
D.    as fast
The sentence is comparing two equal things the speed of the light and the speed of sound. The possible answer is A (faster) and B (much faster than). But the correct answer is B because comparative is formed with either -er/more and than. So we need to add than to complete the comparative form.

2.      The use of detail is ________ method of developing a controlling idea, and almost all students employ this method.
A.    more common
B.     common
C.     most common
D.    the most common
The sentence is used to compare the use of detail method with all other methods of developing a controlling idea. It means that the sentence use superlative to show which one of many things that is most outstanding in some way. The possible answer is C and D, but the correct answer is D (the most common) because superlative is formed with the preceding either -est of most.  

Choose the lletter of the underlined word or group of words that is nor correct.
3.      Certain types of snakes have been known to survive fasts more as a year.
        A                                       B                                  C            D

The sentence is comparing certain types of snake with other types of snake. It has problem with comparative form. The incorrect word is as because comparative is formed with either -er/ more and than. So, we should use than instead of as in that sentence.

4.      The widely  used natural  fiber of all is cottoon.
       A           B                   C             D
The sentence is using superlative form. It is comparing the used of cotton with all the others used of natural fiber. The incorrect words is A (the widely) because superlative is formed by adding the, either -est or most preceding adverb (widely). So correct words are the most widely.

5.      Climate, soil type, and availability of water are the most critical factor than selectin
                                                   A                        B                                         C
the best type of grass for a lawn.
     D

The sentence is used the incorrect form of superlative. The incorrect word is than because superlative is formed with the, either -est or most, and in/of/ that.  The appropriate word to change than is in.


6.      The leek, a member of the lily family, has a mildest taste than the onion. 
                       A                                                        B       C      D

The sentence is comparing two equal things (the leek and the onion), it means that the sentence is using comparative. The incorrect word is B (mildest). Because comparative is formed with either -er/more and than. So the appropriate word to change mildest is milder.


7.      The Monarch butterfly migrates from Canada and the northen U.S. to warmest areas
                                         
                                           A         B                                                             C         D
in California, Florida, and Mexico.

The sentence is using incorrect form of superlative because the word warmest (C) is not preceding by the. Superlative is formed with the, either -est/most, and in/of/that (clause). Thus the correct form is the warmest.

8.      Protein molecules are the most complex than the molecules of carbohydrates and lipids.
                                       A       B                        C                                                D

The sentence is using incorrect form of comparative.. The word the most is used in superlative form, but this sentence should be used comparative form since it is comparing protein molecules with the molecules of carbohydrates Thus, the answer should be ”... more complex than...”.

9.      The grizzly bear, which can grow up to eight feet all, has been called   a more
                                       A                                  B                             C              D
dangerous animal of North America.

The sentence is using incorrect form of superlative. The word “a more” is used in comparative form, but this sentence must be used superlative form because it is comparing the grizzly bear with each of all bear in North America. Thus, the answer should be “... has been called the most dangerous animal of...”.

Masuk angin

Angin tiba tiba menyelinap ke dalam pori memasuki ruang-ruang kosong, menyesaki paru hingga sesak untuk dihembuskan. Menerawang jauh de...